Dunia pendidikan sering kali bicara tentang
investasi masa depan, namun jarang sekali kita menemukan sebuah cerita di mana
masa depan itu dibeli dengan koin-koin ketulusan. Di MTs PKP Jakarta Islamic
School, sebuah keajaiban teknologi lahir bukan dari laboratorium mewah
berbantuan dana melimpah, melainkan dari kotak amal hari Jumat.
Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah
komunitas membangun peradaban kecil melalui robotika, di mana para alumni tidak
pernah benar-benar pergi. Mereka kembali, melunasi "hutang ilmu"
mereka, dan memastikan bahwa adik-adik angkatan mereka tidak pernah kehilangan
arah di tengah deru perkembangan zaman.
Benih yang Ditanam dengan
Doa
Tahun 2008 adalah lembaran pertama. Saat itu,
kata "Robotik" masih terdengar asing, bahkan mungkin dianggap sebagai
mimpi yang terlalu mulia bagi sekolah menengah. Namun, Bapak H. Nanang, S.Ag.,
yang kala itu menjabat sebagai Kepala MTs PKP, memiliki penglihatan yang
menembus waktu. Beliau tidak melihat robot sebagai tumpukan besi dan kabel,
melainkan sebagai media untuk mengasah logika, kreativitas, dan martabat
murid-muridnya.
Masalah utamanya adalah biaya. Pelatihan robotik
berkualitas tinggi memerlukan dana yang tidak sedikit. Di sinilah letak
keunikan sejarah ini: Bapak H. Nanang memutuskan untuk menggunakan uang amal
yang dikumpulkan setiap hari Jumat oleh para murid MTs PKP. Uang receh, ribuan
perak, dan pecahan kertas yang disisihkan oleh anak-anak dengan niat ibadah
itulah yang menjadi bahan bakar pertama.
Uang amal tersebut digunakan untuk
memberangkatkan dan membiayai Bapak Anatta Sannai mempelajari ilmu robotik
secara mendalam. Beliau mengikuti kegiatan IMAGINE Robot 2008, sebuah
kawah candradimuka bagi para pegiat robotika yang menggunakan kurikulum dari
Jerman, yaitu Fischertechnik. Merek konstruksi edukatif ini, yang
diciptakan oleh tokoh legendaris Artur Fischer di Waldachtal, Jerman, menjadi
fondasi intelektual bagi tim robotik PKP.
Ada sebuah beban moral yang luar biasa di pundak Guru
kala itu. Belajar bukan hanya untuk dirinya, melainkan membawa amanah dari
setiap keping koin yang disedekahkan oleh murid-muridnya. Setiap baris kode
yang ia pelajari, setiap sensor yang ia pasang, adalah wujud tanggung jawab
atas kepercayaan luar biasa tersebut.
Panggung Nasional dan
Kejutan dari Senayan
Ilmu tidak boleh mengendap. Segera setelah
pelatihan usai, Sekolah memilih tiga orang murid MTs sebagai pionir: Idhofi,
Ahmad, dan Dipa. Mereka adalah angkatan pertama yang merasakan sentuhan kurikulum
Jerman di laboratorium PKP yang sederhana.
Ujian pertama datang di JCC Senayan pada tahun
2008. Sebagai tim pendatang baru, harapan tidak diletakkan terlalu tinggi.
Namun, semangat yang lahir dari "dana umat" ternyata memberikan
energi yang berbeda. Ketiga remaja ini berhasil menyabet peringkat 4 nasional.
Itu adalah sinyal kuat bahwa PKP telah bangun dari tidurnya.
Tak butuh waktu lama bagi virus prestasi ini
untuk menyebar ke unit lain. Tim Robotik SMK PKP menyusul dengan meraih Juara 3
Nasional. Puncaknya, dalam ajang ICT Awards yang diselenggarakan oleh
Kominfo di Senayan, tim MTs PKP berhasil meraih Juara 2 Nasional. Hal yang
paling membanggakan sekaligus mengharukan adalah fakta bahwa peringkat pertama
diraih oleh tim robotik dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Bayangkan, murid
setingkat SMP/MTs dari Jakarta Timur mampu berdiri sejajar dan memberikan
perlawanan sengit kepada mahasiswa dari universitas terbaik di negeri ini.
Momen itu mengubah segalanya. Prestasi tersebut
bukan lagi sekadar hobi, melainkan sebuah identitas.
Menaklukkan Benua Kanguru
dan Keajaiban Sponsor
Keberanian tim Robotik PKP diuji ketika mereka
memutuskan untuk melangkah ke kancah internasional: International Robotic
Olympiad (IRO) di Australia tahun 2010. Ini adalah lompatan besar. Biaya
yang dibutuhkan mencapai 450 juta rupiah untuk mengirimkan kontingen sebanyak 13
murid (MTs dan SMA PKP), 2 Kepala Sekolah, serta pelatih Bapak Anatta Sannai
dan Bapak Anta Wijaya selama sepekan di Australia.
Angka 450 juta bukanlah jumlah yang sedikit.
Namun, jalan kebaikan selalu terbuka. Bapak Taufik Yudi Mulyanto, M.Pd., Kepala
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta saat itu, memberikan bantuan uang tunai
sebesar 100 juta rupiah. Sisa kekurangan dana tersebut kemudian ditutup oleh
para sponsor yang percaya pada visi PKP, seperti Jasa Marga, Bank DKI,
Pertamina, dan berbagai pihak lainnya.
Di Australia, mereka tidak hanya bertanding;
mereka membuktikan bahwa anak-anak Indonesia memiliki daya saing global.
Keberhasilan ini menjadi katalisator luar biasa. Tim Robotik PKP mendapatkan
liputan khusus selama 15 menit dalam acara "Inovator" di Metro TV,
serta muncul di berbagai media nasional seperti Spacetoon dan Trans TV. PKP
Jakarta Islamic School seketika menjadi buah bibir sebagai pusat keunggulan
robotika remaja.
Tradisi Singapura dan
Budaya Juara
Sepulang dari Australia, ada sebuah berkah
tersisa: dana sebesar 50 juta rupiah. Alih-alih digunakan untuk perayaan, dana
tersebut diinvestasikan kembali untuk membeli peralatan robot baru dan membiayai
kompetisi di Singapore Robotic Games (SRG) pada Januari 2011.
Lomba di Singapura menjadi momen krusial.
Karakter SRG yang bersifat terbuka—artinya murid sekolah harus berhadapan
dengan mahasiswa, dosen, dan praktisi dari berbagai negara—menjadikannya
sekolah kehidupan yang sesungguhnya. Karena biaya pendaftaran yang gratis serta
harga tiket pesawat dan hotel yang relatif murah dibandingkan negara lain,
kompetisi ke Singapura ini akhirnya ditetapkan sebagai "budaya"
tahunan bagi tim PKP.
Kecuali pada masa pandemi, setiap tahun
murid-murid PKP terbang ke Singapura untuk menjemput ilmu. Mereka belajar bahwa
menang atau kalah adalah bagian dari proses, namun konsistensi adalah kunci
dari sebuah kejayaan.
Satu Dekade Prestasi yang
Tak Terbendung
Daftar prestasi Robotik PKP adalah untaian
mutiara yang panjang. Setiap tahunnya, nama-nama baru muncul, membawa trofi
dari berbagai penjuru dunia:
Tahun 2010: Gebrakan Internasional Perdana
·
IRO (International Robotic Olympiad),
Australia:
o
Technical Awards (Kategori Creative Robot
- Positive Water Robot): Diraih oleh tim besar yang terdiri dari Andini
Fadhillah, Naura Nabila, Yulia Angreyni, Nando Saputra, Alvin Refaldy, Anggara,
M. Qastari, M. Hadyan, dan Hasna Hamidah.
Tahun 2011: Konsistensi di Level Internasional
·
Singapore Robotic Games (SRG), Singapura:
o
Nominee (School Robotic Competition):
Anatta Sannai.
·
International Robotic Olympiad (IRO):
o
Silver (Creative Robot - Spidy Robot):
Andini, Shafira, dan Naura.
o
Bronze (Creative Robot - Fire Fighter Robot):
Yulia Anggreyni.
o
Special Awards (Robot Dancing): Anggara
dan Alvin.
Tahun 2012–2013: Pengembangan Inovasi
·
2012 - World Robotic Olympiad (WRO),
Malaysia:
o
Nominee (Smart Home Robot): Nugraheny
Putri.
·
2013 - Singapore Robotic Games (SRG),
Singapura:
o
Nominee (Can Collector Robot):
Antawijaya.
·
2013 - Robotic Day, Indonesia:
o
Special Awards (Maze Solving Robot): Dwi
Nando.
Tahun 2014: Dominasi di Singapura
·
Kompetisi di Singapura:
o
Gold (Junior Robot Maze Solving): Dinda
Wahyuningtias, Fauzan, Alif, dan Dimas.
o
Silver (Senior Robot Line Follower
Analog): Syalbiah Ophi, Pradipa, dan Lidya.
o
Bronze (Senior Robot Line Follower
Analog): Fayyadh Arsyi, Nadya, dan Ridwan.
o
Bronze (Challenge Robot Maze Solving):
Suniandra, Mutia, dan Zahra.
Tahun 2015: Kejayaan di IRTC & SRG
·
IRTC, Singapura:
o
Gold (Robot Transporter): Rafi, Dyfan,
dan Mabita.
o
Silver (Robot Soccer): Diva Sabrina dan
Syalbiah Ophi.
o
Silver (Robot Line Tracer): Reyna,
Bintang, dan Abimanyu.
o
Silver (Robot Soccer): A. Dipa, Ghefira,
dan Firzha.
o
Bronze (Robot Line Tracer): Diva Sabrina
dan Chamidah.
·
Singapore Robotic Games (SRG), Singapura:
o
Nominee (Open Category - Hovercraft
Robot): Zahirah Soraya dan Nadya Cantika.
Tahun 2016: Eksplorasi Robotik Udara &
Air
·
Singapore Robotic Games (SRG), Singapura:
o
Technical Awards (Unmanned Aerial
Vehicle): Sasqia dkk.
·
IISRO, Indonesia:
o
Silver (Aerial Robot): Sultan dan Rafi.
o
Nominator (Underwater Robot): Sultan dan
Rafi.
o
Nominator (Soccer Robot): Sultan dan
Rafi.
Tahun 2017: Tahun Prestasi Terbanyak
·
IRTC, Malaysia:
o
Gold (Analog Mobile Robot): Sultan dan
Dipa.
o
Silver (School Robot Competition): Irfan
Dafi dan Faisal.
o
Bronze (Micro Robot): Nouval, Bima, dan
Rafi.
·
Singapore Robotic Games (SRG), Singapura:
o
Nominator (Sumo Robot): Sultan, Dipa,
Irfan, dan Faisal.
·
Lainnya (ISEF & Nasional):
o
Silver (Amphibi - ISEF Indonesia): Syahwa
dan Irfan.
o
Silver (Brick Speed): Ulfa dan Safira.
o
Bronze (Humanoid Rescue): Rafli dan
Ikhsan.
o
Bronze (Aerial Robot): Jesica dan Rangga.
Tahun 2018–2020: Robot Tenaga Surya
·
2018: Nominee di SRG Singapura dan
Best Judges Choice di Malaysia (Noval).
·
2019 (Nasional): Borong Juara 1
kategori Robot Solar Vehicle di berbagai ajang (Carnival SMA PKP, TSB,
dan Podomoro Golf). Juara 2 Sumo Robot di Podomoro.
·
2020 - World Robot Peace (UTM Malaysia):
o
Juara 1 (Amphibi Solar Vehicle).
o
Juara 2 (Analog Maze Solving).
Tahun 2021-2023: Kebangkitan Pasca Pandemi
·
Tingkat Regional & Nasional:
o
Harapan III (Rancang Bangun - Kanwil
Kemenag DKI): Shafira Maharani & Alpha Rafi.
o
Best Accuration (Sumo Junior - Universitas
Borobudur): Ghaisan Fadhaillilah & Resqi Gerin.
o
Juara 3 (Sumo 1kg - Robotic School Cup):
Aryasatya Azka & M. Farrel Oceanno.
o
Best Strategic Team (Carnival SMA PKP):
Diraih oleh 3 tim (Aryasatya-Farrel, Yuan Faisal-Fathir Arsyad, dan Ali
Maula-Vano Ashraf).
·
Tingkat Internasional
o
Partisipasi Event Lomba di Malaysia, Thailand
dan Jepang
Tahun 2024: Prestasi Nasional Berkelanjutan
·
Turnamen Robotik Indonesia (Piala Ketua MPR):
o
Juara 2: Muhammad Kaisar Sannai, Giazetta
Nugroho, dan Bagas Fahmi Alfian.
·
SMAN 2 Cibinong (Nasional):
o
Juara 1 (Robot Kreatif): Vano, Rafie, dan
Reyhan.
o
Juara 3 (Wi-Fi Car): Farid dan Adli.
Tahun 2025: Dominasi Internasional &
Solo
·
Kompetisi di Malaysia (Januari):
o
Juara 3 (Wifi Car): Annas, Fayyadh,
Fauzul.
o
Peringkat 5 & 9 (Transporter &
Sumo): Fayyadh, Fauzul, Reyhan.
·
International Robosport Tournament, Solo
(Juni):
o
Juara 1 (Mini Soccer Basic): Eiffel,
Praditiyo Haikal, Cakra Naga.
o
Juara 2 (Creative & Business
Innovation): Leticia Kiara & Fayyadh Nassim.
o
Juara 2 (Sumo Basic): Asshyifa Naura,
Leticia Kiara, David Putra.
o
Juara 2 (Wifi Car Adventure): Annas
Rizky, M. Faried Attafi, Fayyadh Nassim.
o
Juara 3 (Battle Robot): Eiffel Fahlefi
& Annas Rizki.
o
Juara 3 (Sumo Basic): Nabil Al Faqih,
Razi Muhammad, M. Raihan Jurisma.
Filantropi Ilmu: Mengapa
Alumni Kembali?
Inilah inti dari seluruh tulisan ini: Lingkaran
Keikhlasan.
Di sekolah lain, robotika mungkin hanya sekadar
ekstrakurikuler yang selesai saat siswa menerima ijazah. Namun di PKP, robotika
adalah keluarga. Ada sebuah tradisi tak tertulis yang sangat kuat: Alumni
yang telah berhasil, memiliki kewajiban moral untuk kembali dan mengajar.
Di balik deretan piala yang berjejer rapi di
lemari sekolah, ada sebuah fenomena yang jauh lebih inspiratif daripada medali
emas itu sendiri. Fenomena itu adalah Pengabdian Tanpa Batas dari para
Alumni.
Mengapa mereka kembali? Jawabannya ada pada akar
sejarah mereka. Mereka tahu bahwa setiap sensor yang mereka pegang saat masih
sekolah, dibeli dari uang amal adik-adik kelasnya. Mereka sadar bahwa mereka
adalah produk dari sebuah sistem filantropi yang sangat indah. Maka, ketika
mereka lulus dan memiliki ilmu yang lebih tinggi dari bangku universitas atau
industri, mereka merasa tidak pantas jika ilmu itu hanya dinikmati sendiri.
Mereka kembali ke laboratorium robotik PKP bukan
sebagai tamu, melainkan sebagai mentor. Mereka memberikan ilmu-ilmu terbaru
yang mereka dapatkan di bangku kuliah atau dunia kerja kepada adik-adik
kelasnya. Mereka membantu merancang algoritma, memperbaiki sirkuit yang
terbakar, hingga memberikan motivasi mental sebelum pertandingan.
Ini adalah bentuk "Wakaf Ilmu".
Jika dulu mereka belajar menggunakan uang amal, kini mereka membalasnya dengan
mengamalkan ilmu. Para alumni ini memahami bahwa keberlanjutan prestasi robotik
PKP bukan terletak pada kecanggihan alatnya, melainkan pada transfer
pengetahuan yang tidak pernah putus antargenerasi.
Bagi para alumni, mengajarkan robotik kepada adik
kelas adalah cara mereka "membayar kembali" uang amal yang telah
membesarkan mereka. Ini adalah Estafet Cahaya. Ilmu yang dulunya berasal
dari Jerman melalui Bapak Anatta Sannai dan Anta Wijaya, kini telah menjadi
milik komunal yang terus diperbarui oleh setiap generasi.
Tim Juara dan Generasi
Masa Depan
Prestasi terbaru pada tahun 2024 dan 2025
menunjukkan bahwa regenerasi berjalan sempurna. Nama Muhammad Kaisar Sannai
bersama Giazetta dan Bagas yang meraih Juara 2 di Turnamen Robotik Indonesia
Piala Ketua MPR 2024, adalah bukti bahwa standar tinggi yang ditetapkan sejak
2008 tetap terjaga. Begitu pula dengan Eiffel, Annas, Fayyadh, dan Fauzul yang
baru saja membawa pulang medali dari Malaysia pada Januari 2025.
Generasi ini adalah generasi yang beruntung
karena mereka berdiri di atas bahu para raksasa. Mereka didukung oleh
infrastruktur yang lebih baik, peralatan yang lebih canggih, dan yang
terpenting: mentor-mentor yang merupakan kakak tingkat mereka sendiri.
Robot yang Memiliki Jiwa
Robotik PKP Jakarta Islamic School mengajarkan
kita satu hal penting: Teknologi tanpa karakter adalah mesin kosong. Namun,
teknologi yang dibangun dari koin amal, dirawat dengan doa guru, dan
dikembangkan melalui pengabdian alumni, akan melahirkan "robot yang
memiliki jiwa".
Jiwa itu adalah jiwa keikhlasan. Jiwa itu adalah jiwa
pejuang yang tidak pernah lupa dari mana mereka berasal. Dari Waldachtal Jerman
ke Jakarta Timur, dari JCC Senayan ke Sydney Opera House, dan dari laboratorium
sekolah kembali ke hati para murid—robotik PKP adalah bukti nyata bahwa ketika
ilmu dibagikan, ia tidak akan berkurang, melainkan akan meledak menjadi
prestasi yang mengharumkan nama bangsa.
Teruslah berkarya, Tim Robotik PKP. Biarkan
koin-koin amal itu terus bersuara melalui medali-medali yang kalian raih, dan
biarkan estafet ilmu ini terus berjalan hingga ke generasi-generasi berikutnya
yang belum lahir. Karena di PKP, kita tidak hanya membuat robot; kita sedang
membangun manusia.
Harapan
yang Terus Menyala
Kisah robotik PKP adalah pengingat bagi kita
semua bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi kemajuan teknologi
selama ada kemauan untuk berbagi. Dari uang receh hari Jumat, lahir para ahli
teknologi yang rendah hati. Dari bimbingan tulus seorang guru, lahir generasi
pemenang yang tidak lupa daratan.
Kini, setiap kali sebuah robot kecil melaju di
atas lintasan line follower atau sebuah robot sumo beradu
kekuatan di arena, di sanalah denyut nadi keikhlasan itu terasa. Robot-robot
itu tidak hanya digerakkan oleh baterai, tetapi digerakkan oleh doa para
penyumbang kotak amal, dedikasi para guru, dan bakti tulus para alumni.
Robotik PKP Jakarta Islamic School bukan lagi
sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Ia adalah sebuah institusi moral di mana
teknologi dan karakter Islam bertemu. Selama para alumni masih mau menoleh ke
belakang dan mengulurkan tangan bagi adik-adiknya, maka selama itu pula robotik
PKP akan terus bersinar, dari Jakarta Timur untuk dunia.
Nama Lengkap : Anatta
Sannai, M.Pd
Satuan Unit : MTs PKP
Jabatan/Profesi : Wakil
Kepala Madrasah bidang Kesiswaan















