Sabtu, 04 April 2026

Estafet Cahaya Robotik

 

Dunia pendidikan sering kali bicara tentang investasi masa depan, namun jarang sekali kita menemukan sebuah cerita di mana masa depan itu dibeli dengan koin-koin ketulusan. Di MTs PKP Jakarta Islamic School, sebuah keajaiban teknologi lahir bukan dari laboratorium mewah berbantuan dana melimpah, melainkan dari kotak amal hari Jumat.

Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah komunitas membangun peradaban kecil melalui robotika, di mana para alumni tidak pernah benar-benar pergi. Mereka kembali, melunasi "hutang ilmu" mereka, dan memastikan bahwa adik-adik angkatan mereka tidak pernah kehilangan arah di tengah deru perkembangan zaman.

Benih yang Ditanam dengan Doa

Tahun 2008 adalah lembaran pertama. Saat itu, kata "Robotik" masih terdengar asing, bahkan mungkin dianggap sebagai mimpi yang terlalu mulia bagi sekolah menengah. Namun, Bapak H. Nanang, S.Ag., yang kala itu menjabat sebagai Kepala MTs PKP, memiliki penglihatan yang menembus waktu. Beliau tidak melihat robot sebagai tumpukan besi dan kabel, melainkan sebagai media untuk mengasah logika, kreativitas, dan martabat murid-muridnya.

Masalah utamanya adalah biaya. Pelatihan robotik berkualitas tinggi memerlukan dana yang tidak sedikit. Di sinilah letak keunikan sejarah ini: Bapak H. Nanang memutuskan untuk menggunakan uang amal yang dikumpulkan setiap hari Jumat oleh para murid MTs PKP. Uang receh, ribuan perak, dan pecahan kertas yang disisihkan oleh anak-anak dengan niat ibadah itulah yang menjadi bahan bakar pertama.

Uang amal tersebut digunakan untuk memberangkatkan dan membiayai Bapak Anatta Sannai mempelajari ilmu robotik secara mendalam. Beliau mengikuti kegiatan IMAGINE Robot 2008, sebuah kawah candradimuka bagi para pegiat robotika yang menggunakan kurikulum dari Jerman, yaitu Fischertechnik. Merek konstruksi edukatif ini, yang diciptakan oleh tokoh legendaris Artur Fischer di Waldachtal, Jerman, menjadi fondasi intelektual bagi tim robotik PKP.

Ada sebuah beban moral yang luar biasa di pundak Guru kala itu. Belajar bukan hanya untuk dirinya, melainkan membawa amanah dari setiap keping koin yang disedekahkan oleh murid-muridnya. Setiap baris kode yang ia pelajari, setiap sensor yang ia pasang, adalah wujud tanggung jawab atas kepercayaan luar biasa tersebut.

Panggung Nasional dan Kejutan dari Senayan

Ilmu tidak boleh mengendap. Segera setelah pelatihan usai, Sekolah memilih tiga orang murid MTs sebagai pionir: Idhofi, Ahmad, dan Dipa. Mereka adalah angkatan pertama yang merasakan sentuhan kurikulum Jerman di laboratorium PKP yang sederhana.

Ujian pertama datang di JCC Senayan pada tahun 2008. Sebagai tim pendatang baru, harapan tidak diletakkan terlalu tinggi. Namun, semangat yang lahir dari "dana umat" ternyata memberikan energi yang berbeda. Ketiga remaja ini berhasil menyabet peringkat 4 nasional. Itu adalah sinyal kuat bahwa PKP telah bangun dari tidurnya.

Tak butuh waktu lama bagi virus prestasi ini untuk menyebar ke unit lain. Tim Robotik SMK PKP menyusul dengan meraih Juara 3 Nasional. Puncaknya, dalam ajang ICT Awards yang diselenggarakan oleh Kominfo di Senayan, tim MTs PKP berhasil meraih Juara 2 Nasional. Hal yang paling membanggakan sekaligus mengharukan adalah fakta bahwa peringkat pertama diraih oleh tim robotik dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Bayangkan, murid setingkat SMP/MTs dari Jakarta Timur mampu berdiri sejajar dan memberikan perlawanan sengit kepada mahasiswa dari universitas terbaik di negeri ini.

Momen itu mengubah segalanya. Prestasi tersebut bukan lagi sekadar hobi, melainkan sebuah identitas.

Menaklukkan Benua Kanguru dan Keajaiban Sponsor

Keberanian tim Robotik PKP diuji ketika mereka memutuskan untuk melangkah ke kancah internasional: International Robotic Olympiad (IRO) di Australia tahun 2010. Ini adalah lompatan besar. Biaya yang dibutuhkan mencapai 450 juta rupiah untuk mengirimkan kontingen sebanyak 13 murid (MTs dan SMA PKP), 2 Kepala Sekolah, serta pelatih Bapak Anatta Sannai dan Bapak Anta Wijaya selama sepekan di Australia.

Angka 450 juta bukanlah jumlah yang sedikit. Namun, jalan kebaikan selalu terbuka. Bapak Taufik Yudi Mulyanto, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta saat itu, memberikan bantuan uang tunai sebesar 100 juta rupiah. Sisa kekurangan dana tersebut kemudian ditutup oleh para sponsor yang percaya pada visi PKP, seperti Jasa Marga, Bank DKI, Pertamina, dan berbagai pihak lainnya.

Di Australia, mereka tidak hanya bertanding; mereka membuktikan bahwa anak-anak Indonesia memiliki daya saing global. Keberhasilan ini menjadi katalisator luar biasa. Tim Robotik PKP mendapatkan liputan khusus selama 15 menit dalam acara "Inovator" di Metro TV, serta muncul di berbagai media nasional seperti Spacetoon dan Trans TV. PKP Jakarta Islamic School seketika menjadi buah bibir sebagai pusat keunggulan robotika remaja.


Tradisi Singapura dan Budaya Juara

Sepulang dari Australia, ada sebuah berkah tersisa: dana sebesar 50 juta rupiah. Alih-alih digunakan untuk perayaan, dana tersebut diinvestasikan kembali untuk membeli peralatan robot baru dan membiayai kompetisi di Singapore Robotic Games (SRG) pada Januari 2011.

Lomba di Singapura menjadi momen krusial. Karakter SRG yang bersifat terbuka—artinya murid sekolah harus berhadapan dengan mahasiswa, dosen, dan praktisi dari berbagai negara—menjadikannya sekolah kehidupan yang sesungguhnya. Karena biaya pendaftaran yang gratis serta harga tiket pesawat dan hotel yang relatif murah dibandingkan negara lain, kompetisi ke Singapura ini akhirnya ditetapkan sebagai "budaya" tahunan bagi tim PKP.

Kecuali pada masa pandemi, setiap tahun murid-murid PKP terbang ke Singapura untuk menjemput ilmu. Mereka belajar bahwa menang atau kalah adalah bagian dari proses, namun konsistensi adalah kunci dari sebuah kejayaan.

Satu Dekade Prestasi yang Tak Terbendung

Daftar prestasi Robotik PKP adalah untaian mutiara yang panjang. Setiap tahunnya, nama-nama baru muncul, membawa trofi dari berbagai penjuru dunia:

Tahun 2010: Gebrakan Internasional Perdana

·         IRO (International Robotic Olympiad), Australia:

o    Technical Awards (Kategori Creative Robot - Positive Water Robot): Diraih oleh tim besar yang terdiri dari Andini Fadhillah, Naura Nabila, Yulia Angreyni, Nando Saputra, Alvin Refaldy, Anggara, M. Qastari, M. Hadyan, dan Hasna Hamidah.



Tahun 2011: Konsistensi di Level Internasional

·         Singapore Robotic Games (SRG), Singapura:

o    Nominee (School Robotic Competition): Anatta Sannai.

·         International Robotic Olympiad (IRO):

o    Silver (Creative Robot - Spidy Robot): Andini, Shafira, dan Naura.

o    Bronze (Creative Robot - Fire Fighter Robot): Yulia Anggreyni.

o    Special Awards (Robot Dancing): Anggara dan Alvin.

Tahun 2012–2013: Pengembangan Inovasi

·         2012 - World Robotic Olympiad (WRO), Malaysia:

o    Nominee (Smart Home Robot): Nugraheny Putri.

·         2013 - Singapore Robotic Games (SRG), Singapura:

o    Nominee (Can Collector Robot): Antawijaya.

·         2013 - Robotic Day, Indonesia:

o    Special Awards (Maze Solving Robot): Dwi Nando.

Tahun 2014: Dominasi di Singapura

·         Kompetisi di Singapura:

o    Gold (Junior Robot Maze Solving): Dinda Wahyuningtias, Fauzan, Alif, dan Dimas.

o    Silver (Senior Robot Line Follower Analog): Syalbiah Ophi, Pradipa, dan Lidya.

o    Bronze (Senior Robot Line Follower Analog): Fayyadh Arsyi, Nadya, dan Ridwan.

o    Bronze (Challenge Robot Maze Solving): Suniandra, Mutia, dan Zahra.

Tahun 2015: Kejayaan di IRTC & SRG

·         IRTC, Singapura:

o    Gold (Robot Transporter): Rafi, Dyfan, dan Mabita.

o    Silver (Robot Soccer): Diva Sabrina dan Syalbiah Ophi.

o    Silver (Robot Line Tracer): Reyna, Bintang, dan Abimanyu.

o    Silver (Robot Soccer): A. Dipa, Ghefira, dan Firzha.

o    Bronze (Robot Line Tracer): Diva Sabrina dan Chamidah.

·         Singapore Robotic Games (SRG), Singapura:

o    Nominee (Open Category - Hovercraft Robot): Zahirah Soraya dan Nadya Cantika.

Tahun 2016: Eksplorasi Robotik Udara & Air

·         Singapore Robotic Games (SRG), Singapura:

o    Technical Awards (Unmanned Aerial Vehicle): Sasqia dkk.

·         IISRO, Indonesia:

o    Silver (Aerial Robot): Sultan dan Rafi.

o    Nominator (Underwater Robot): Sultan dan Rafi.

o    Nominator (Soccer Robot): Sultan dan Rafi.

Tahun 2017: Tahun Prestasi Terbanyak

·         IRTC, Malaysia:

o    Gold (Analog Mobile Robot): Sultan dan Dipa.

o    Silver (School Robot Competition): Irfan Dafi dan Faisal.

o    Bronze (Micro Robot): Nouval, Bima, dan Rafi.

·         Singapore Robotic Games (SRG), Singapura:

o    Nominator (Sumo Robot): Sultan, Dipa, Irfan, dan Faisal.

·         Lainnya (ISEF & Nasional):

o    Silver (Amphibi - ISEF Indonesia): Syahwa dan Irfan.

o    Silver (Brick Speed): Ulfa dan Safira.

o    Bronze (Humanoid Rescue): Rafli dan Ikhsan.

o    Bronze (Aerial Robot): Jesica dan Rangga.

Tahun 2018–2020: Robot Tenaga Surya

·         2018: Nominee di SRG Singapura dan Best Judges Choice di Malaysia (Noval).

·         2019 (Nasional): Borong Juara 1 kategori Robot Solar Vehicle di berbagai ajang (Carnival SMA PKP, TSB, dan Podomoro Golf). Juara 2 Sumo Robot di Podomoro.

·         2020 - World Robot Peace (UTM Malaysia):

o    Juara 1 (Amphibi Solar Vehicle).

o    Juara 2 (Analog Maze Solving).

Tahun 2021-2023: Kebangkitan Pasca Pandemi

·         Tingkat Regional & Nasional:

o    Harapan III (Rancang Bangun - Kanwil Kemenag DKI): Shafira Maharani & Alpha Rafi.

o    Best Accuration (Sumo Junior - Universitas Borobudur): Ghaisan Fadhaillilah & Resqi Gerin.

o    Juara 3 (Sumo 1kg - Robotic School Cup): Aryasatya Azka & M. Farrel Oceanno.

o    Best Strategic Team (Carnival SMA PKP): Diraih oleh 3 tim (Aryasatya-Farrel, Yuan Faisal-Fathir Arsyad, dan Ali Maula-Vano Ashraf).

·         Tingkat Internasional

o    Partisipasi Event Lomba di Malaysia, Thailand dan Jepang



Tahun 2024: Prestasi Nasional Berkelanjutan

·         Turnamen Robotik Indonesia (Piala Ketua MPR):

o    Juara 2: Muhammad Kaisar Sannai, Giazetta Nugroho, dan Bagas Fahmi Alfian.

·         SMAN 2 Cibinong (Nasional):

o    Juara 1 (Robot Kreatif): Vano, Rafie, dan Reyhan.

o    Juara 3 (Wi-Fi Car): Farid dan Adli.

Tahun 2025: Dominasi Internasional & Solo

·         Kompetisi di Malaysia (Januari):

o    Juara 3 (Wifi Car): Annas, Fayyadh, Fauzul.

o    Peringkat 5 & 9 (Transporter & Sumo): Fayyadh, Fauzul, Reyhan.

·         International Robosport Tournament, Solo (Juni):

o    Juara 1 (Mini Soccer Basic): Eiffel, Praditiyo Haikal, Cakra Naga.

o    Juara 2 (Creative & Business Innovation): Leticia Kiara & Fayyadh Nassim.

o    Juara 2 (Sumo Basic): Asshyifa Naura, Leticia Kiara, David Putra.

o    Juara 2 (Wifi Car Adventure): Annas Rizky, M. Faried Attafi, Fayyadh Nassim.

o    Juara 3 (Battle Robot): Eiffel Fahlefi & Annas Rizki.

o    Juara 3 (Sumo Basic): Nabil Al Faqih, Razi Muhammad, M. Raihan Jurisma.



Filantropi Ilmu: Mengapa Alumni Kembali?

Inilah inti dari seluruh tulisan ini: Lingkaran Keikhlasan.

Di sekolah lain, robotika mungkin hanya sekadar ekstrakurikuler yang selesai saat siswa menerima ijazah. Namun di PKP, robotika adalah keluarga. Ada sebuah tradisi tak tertulis yang sangat kuat: Alumni yang telah berhasil, memiliki kewajiban moral untuk kembali dan mengajar.

Di balik deretan piala yang berjejer rapi di lemari sekolah, ada sebuah fenomena yang jauh lebih inspiratif daripada medali emas itu sendiri. Fenomena itu adalah Pengabdian Tanpa Batas dari para Alumni.

Mengapa mereka kembali? Jawabannya ada pada akar sejarah mereka. Mereka tahu bahwa setiap sensor yang mereka pegang saat masih sekolah, dibeli dari uang amal adik-adik kelasnya. Mereka sadar bahwa mereka adalah produk dari sebuah sistem filantropi yang sangat indah. Maka, ketika mereka lulus dan memiliki ilmu yang lebih tinggi dari bangku universitas atau industri, mereka merasa tidak pantas jika ilmu itu hanya dinikmati sendiri.

Mereka kembali ke laboratorium robotik PKP bukan sebagai tamu, melainkan sebagai mentor. Mereka memberikan ilmu-ilmu terbaru yang mereka dapatkan di bangku kuliah atau dunia kerja kepada adik-adik kelasnya. Mereka membantu merancang algoritma, memperbaiki sirkuit yang terbakar, hingga memberikan motivasi mental sebelum pertandingan.

Ini adalah bentuk "Wakaf Ilmu". Jika dulu mereka belajar menggunakan uang amal, kini mereka membalasnya dengan mengamalkan ilmu. Para alumni ini memahami bahwa keberlanjutan prestasi robotik PKP bukan terletak pada kecanggihan alatnya, melainkan pada transfer pengetahuan yang tidak pernah putus antargenerasi.

Bagi para alumni, mengajarkan robotik kepada adik kelas adalah cara mereka "membayar kembali" uang amal yang telah membesarkan mereka. Ini adalah Estafet Cahaya. Ilmu yang dulunya berasal dari Jerman melalui Bapak Anatta Sannai dan Anta Wijaya, kini telah menjadi milik komunal yang terus diperbarui oleh setiap generasi.

Tim Juara dan Generasi Masa Depan

Prestasi terbaru pada tahun 2024 dan 2025 menunjukkan bahwa regenerasi berjalan sempurna. Nama Muhammad Kaisar Sannai bersama Giazetta dan Bagas yang meraih Juara 2 di Turnamen Robotik Indonesia Piala Ketua MPR 2024, adalah bukti bahwa standar tinggi yang ditetapkan sejak 2008 tetap terjaga. Begitu pula dengan Eiffel, Annas, Fayyadh, dan Fauzul yang baru saja membawa pulang medali dari Malaysia pada Januari 2025.

Generasi ini adalah generasi yang beruntung karena mereka berdiri di atas bahu para raksasa. Mereka didukung oleh infrastruktur yang lebih baik, peralatan yang lebih canggih, dan yang terpenting: mentor-mentor yang merupakan kakak tingkat mereka sendiri.


Robot yang Memiliki Jiwa

Robotik PKP Jakarta Islamic School mengajarkan kita satu hal penting: Teknologi tanpa karakter adalah mesin kosong. Namun, teknologi yang dibangun dari koin amal, dirawat dengan doa guru, dan dikembangkan melalui pengabdian alumni, akan melahirkan "robot yang memiliki jiwa".

Jiwa itu adalah jiwa keikhlasan. Jiwa itu adalah jiwa pejuang yang tidak pernah lupa dari mana mereka berasal. Dari Waldachtal Jerman ke Jakarta Timur, dari JCC Senayan ke Sydney Opera House, dan dari laboratorium sekolah kembali ke hati para murid—robotik PKP adalah bukti nyata bahwa ketika ilmu dibagikan, ia tidak akan berkurang, melainkan akan meledak menjadi prestasi yang mengharumkan nama bangsa.

Teruslah berkarya, Tim Robotik PKP. Biarkan koin-koin amal itu terus bersuara melalui medali-medali yang kalian raih, dan biarkan estafet ilmu ini terus berjalan hingga ke generasi-generasi berikutnya yang belum lahir. Karena di PKP, kita tidak hanya membuat robot; kita sedang membangun manusia.

Harapan yang Terus Menyala

Kisah robotik PKP adalah pengingat bagi kita semua bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi kemajuan teknologi selama ada kemauan untuk berbagi. Dari uang receh hari Jumat, lahir para ahli teknologi yang rendah hati. Dari bimbingan tulus seorang guru, lahir generasi pemenang yang tidak lupa daratan.

Kini, setiap kali sebuah robot kecil melaju di atas lintasan line follower atau sebuah robot sumo beradu kekuatan di arena, di sanalah denyut nadi keikhlasan itu terasa. Robot-robot itu tidak hanya digerakkan oleh baterai, tetapi digerakkan oleh doa para penyumbang kotak amal, dedikasi para guru, dan bakti tulus para alumni.

Robotik PKP Jakarta Islamic School bukan lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Ia adalah sebuah institusi moral di mana teknologi dan karakter Islam bertemu. Selama para alumni masih mau menoleh ke belakang dan mengulurkan tangan bagi adik-adiknya, maka selama itu pula robotik PKP akan terus bersinar, dari Jakarta Timur untuk dunia.

 

Nama Lengkap : Anatta Sannai, M.Pd

Satuan Unit : MTs PKP

Jabatan/Profesi : Wakil Kepala Madrasah bidang Kesiswaan